Menjaga "Daun Emas" Desa Banjargondang: Kisah Ketekunan Bapak Supriaji Merawat Warisan Leluhur
LAMONGAN — Di balik hamparan hijau lahan pertanian Desa Banjargondang, Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan, tersimpan kisah ketekunan para petani lokal dalam merawat tradisi. Salah satu sosok penting di balik keberlanjutan tradisi ini adalah Bapak Supriaji (57). Selain mengabdi sebagai Bendahara Desa dan peternak, ia merupakan petani tembakau senior yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mengolah tanah demi kelangsungan ekonomi warga.
Kecintaan Supriaji terhadap dunia pertanian bukanlah hal baru. Jejaknya telah dimulai sejak tahun 1979, kala ia masih belia dan menimba ilmu membudidayakan tembakau langsung dari almarhum ayahnya. Kini, setelah puluhan tahun berlalu, ia dipercaya mengelola lahan tembakau seluas kurang lebih dua hektare.
Warisan Kolonial dan Adaptasi Geografis
Menurut penuturan Supriaji, tembakau bukan sekadar tanaman musiman, melainkan identitas yang melekat erat dengan masyarakat Banjargondang. Komoditas ini diperkirakan telah dibudidayakan secara turun-temurun sejak era penjajahan Belanda.
Geografis desa yang berada di kawasan dataran tinggi dengan ketersediaan air terbatas menjadikan tembakau sebagai pilihan paling rasional dan produktif.
“Kondisi wilayah kita cocoknya memang untuk tembakau. Petani di sini umumnya membudidayakan dua varietas utama, yaitu tembakau Virginia dan Jawa.”
Proses budidaya biasanya dimulai pada bulan Mei. Sebelum ditanam, benih disemai terlebih dahulu selama satu bulan di atas bedengan berlapis jerami untuk menjaga kelembapan. Setelah siap, bibit dipindahkan ke lahan yang telah digemburkan. Jika dahulu proses penyiapan tanah menggunakan cangkul, kini modernisasi hadir membawa efisiensi.
Tantangan Alam dan Sentuhan Modernisasi
Proses perawatan tembakau membutuhkan ketelatenan tinggi, mulai dari penyiraman, pemupukan bertahap, hingga pengendalian hama ulat. Tanaman ini umumnya membutuhkan waktu sekitar tiga bulan hingga memasuki masa panen.
🌧️ Tantangan Utama: Curah Hujan Tinggi
Bertani tembakau tak lepas dari risiko. Supriaji menyebutkan bahwa musuh terbesar para petani adalah curah hujan yang tinggi. Air hujan yang berlebihan berpotensi menurunkan kualitas daun dan merusak hasil panen secara signifikan.
🚜 Sentuhan Teknologi Modern
Di sisi lain, ia bersyukur atas perkembangan teknologi pertanian saat ini. Kehadiran traktor dan mesin perajang tembakau dinilai sangat membantu mempercepat proses pengolahan tanah hingga pascapanen.
Tumpuan Ekonomi dan Pesan untuk Generasi Muda
Bagi Supriaji, pengalaman paling berkesan selama puluhan tahun bertani adalah ketika tanaman lain mengalami kegagalan panen, tembakau justru sering kali menjadi "penyelamat" ekonomi warga. Saat komoditas lain tak memberikan hasil memuaskan, tembakau konsisten memberikan pendapatan yang mampu menopang kebutuhan masyarakat.
Menutup perbincangan, Supriaji melayangkan pesan penuh harapan kepada generasi muda. Ia menepis anggapan bahwa bertani adalah pekerjaan yang tertinggal.
