Menjaga Warisan Lahan Kering: Kisah Dedikasi Bapak Sutikno dan Filosofi Daun Emas Banjargondang
LAMONGAN — Bagi Bapak Sutikno (61), bertani tembakau bukan sekadar tentang bercocok tanam atau mencari nafkah. Lebih dari itu, dedikasinya mengolah tanah adalah bentuk menjaga warisan keluarga yang diwariskan secara turun-temurun. Pria yang pernah mengabdi sebagai Kepala Desa Banjargondang periode 1999–2013 ini telah menekuni budidaya tembakau sejak era 1980-an.
Hingga kini, di balik kesibukannya mengelola lahan tembakau seluas 4.500 meter persegi di Desa Banjargondang, Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan, beliau juga aktif beternak sapi sebagai usaha sampingan.
Warisan Kolonial dan Penyelamat di Lahan Kering
Menurut Sutikno, tanaman tembakau memiliki sejarah panjang di tanah Banjargondang. Komoditas ini telah dibudidayakan warga setempat sejak era penjajahan Belanda dan terus bertahan melintasi berbagai generasi. Kondisi geografis desa yang didominasi lahan kering serta ketersediaan air yang terbatas menjadikan tembakau sebagai pilihan paling ideal bagi masyarakat.
Semangatnya dalam bertani terus dibakar oleh sebuah ungkapan Jawa yang legendaris:
“Ungkapan tersebut menggambarkan bahwa dalam kondisi dan musim yang mendukung, tembakau selalu mampu memberikan hasil ekonomi yang jauh lebih baik dibandingkan komoditas pertanian lainnya,” ungkap Sutikno menjelaskan makna filosofi tersebut. Hal inilah yang menjadikan tembakau tetap menjadi komoditas unggulan utama di desanya.
Ketelatenan Perawatan di Tengah Musim Kemarau
Musim tanam tembakau di Banjargondang umumnya berlangsung antara bulan April hingga Juli, menyesuaikan dengan kondisi lahan dan pasokan air. Sebelum bibit ditanam, lahan dipersiapkan secara cermat dengan membuat parit saluran air serta lubang-lubang tanam.
🪨 Kearifan Lokal: Teknik Menutup Retakan Tanah
Proses perawatan membutuhkan tingkat ketelitian tinggi. Selain pembersihan gulma secara rutin, saat menghadapi kemarau ekstrem dan tanah mulai retak akibat kekeringan, petani menutup retakan tersebut menggunakan kerikil agar kelembapan di dalam tanah tetap terjaga. Ketelatenan inilah yang menjadi kunci utama menghasilkan daun tembakau berkualitas tinggi.
Menghadapi Ancaman Layu Fusarium
Meski menawarkan hasil yang menggiurkan, bertani tembakau tak lepas dari ujian berat. Tantangan terbesar yang membayangi para petani adalah serangan penyakit layu Fusarium—wabah yang menyerang akar hingga membusuk dan mematikan tanaman.
Sutikno mengenang salah satu masa tersulit dalam perjalanan bertaninya akibat wabah ini. Kala itu, modal produksi yang dikeluarkannya mencapai Rp2.000.000, namun hasil penjualan tembakau yang tersisa hanya meraih Rp600.000.
Untuk menyiasati dan memutus rantai penyebaran penyakit tersebut, para petani kini menerapkan sistem rotasi tanaman. Lahan pertanian akan ditanami jagung, kacang-kacangan, atau tanaman selingan lainnya sebelum kembali ditanami tembakau pada musim berikutnya.
Dari Pemetikan Hingga Harapan pada Generasi Muda
Sutikno menjelaskan, tanda utama daun tembakau siap dipanen adalah ketika daun bagian bawah telah berubah warna menjadi kuning segar. Setelah dipetik, daun diperam (diimbu) selama beberapa hari sesuai tingkat kematangannya agar warnanya merata, sebelum akhirnya dirajang, dijemur hingga kering, dan dijual ke para pembeli.
Di akhir perbincangan, mantan kepala desa ini menyampaikan pesan mendalam bagi generasi penerus:
“Jangan pernah malu menjadi petani. Anak-anak muda harus terus melestarikan budidaya tembakau ini, karena selain sebagai warisan budaya, tembakau adalah sumber penghidupan yang menopang kesejahteraan desa kita.”
