Menjaga Akar Tradisi: Kisah Ketekunan Supeno dan Harapan Pertanian Tembakau Desa Banjargondang
LAMONGAN — Bagi masyarakat Desa Banjargondang, Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan, budidaya tembakau bukan sekadar rutinitas musiman, melainkan bagian dari denyut nadi kehidupan warga. Salah satu sosok yang setia menjaga kelestarian tradisi ini adalah Bapak Supeno, seorang petani berpengalaman yang memahami betul seluk-beluk pengolahan tembakau dari hulu ke hilir.
Bagi Supeno, mengolah tanah dan merawat tanaman tembakau bukan cuma urusan mencari nafkah, melainkan ikhtiar menjaga warisan pertanian yang diturunkan oleh para leluhur.
Seni Pembibitan dan Ketelatenan Perawatan
Perjalanan panjang budidaya tembakau dimulai dari ketelitian pada tahap awal. Supeno menjelaskan bahwa proses diawali dengan pembuatan bedengan atau dederan khusus sebagai media penyemaian benih.
Guna memastikan bibit tumbuh optimal, perawatan ekstra sudah dilakukan sejak benih disebar. Salah satu teknik unik yang diterapkan adalah menyiram bedengan menggunakan larutan khusus untuk melindungi benih dari gangguan semut.
Setelah bibit tumbuh sehat dan kuat, tanaman dipindahkan ke lahan utama yang telah digemburkan dan dibentuk guludan.
“Pengolahan tanah dan pembentukan guludan ini penting agar tanaman memiliki ruang tumbuh dan sirkulasi udara yang cukup.”
Perawatan rutin kemudian dilanjutkan melalui penyiraman, pemupukan terukur, serta pemantauan kondisi fisik tanaman secara berkala.
Solusi Ramah Lingkungan Menghadapi Layu Tanaman
Di tengah ancaman penyakit layu yang menjadi musuh utama para petani, Supeno memilih pendekatan yang lebih bijak. Mengingat tanaman yang terserang layu sangat sulit dipulihkan, ia dan rekan-rekan petani lebih berfokus pada langkah pencegahan (preventif).
🌿 Pertanian Ramah Lingkungan
Dibanding bergantung pada pestisida kimia, Supeno mengutamakan penggunaan obat hayati nabati. Selain lebih aman bagi struktur tanah dan keanekaragaman hayati, penggunaan bahan hayati ini dinilai efektif menjaga stamina tanaman dari serangan penyakit.
Dari Pemeraman Hingga Gulungan Siap Jual
Kejelian petani kembali diuji saat masa panen tiba. Daun tembakau dipetik hanya ketika telah menunjukkan warna kuning segar—tanda bahwa tingkat kematangan daun sudah berada pada kondisi puncak. Proses pascapanen pun membutuhkan waktu dan perlakuan khusus:
1 Pemeraman (Diimbu)
Daun yang telah dipetik diperam selama kurang lebih empat hari hingga warnanya berubah menjadi kuning merata.
2 Perajangan
Daun dirajang menjadi irisan-irisan tipis.
3 Penjemuran & Penggulungan
Irisan tembakau dijemur di bawah terik matahari hingga kering sempurna, lalu digulung rapi sebelum diserahkan kepada pembeli.
Potensi Ekonomi dan Harapan Kemitraan
Pengalaman paling berkesan bagi Supeno adalah menyaksikan tembakau bertahan gagah di tengah musim kemarau ekstrem. Sifat tembakau yang tahan cuaca panas dan hemat pupuk menjadikannya komoditas unggulan yang sangat menjanjikan secara ekonomi. Hasil panen ini menjadi pilar utama penyokong kebutuhan sehari-hari keluarga warga desa.
Meski demikian, Supeno mengungkapkan satu tantangan pasar yang masih dihadapi: belum adanya kemitraan langsung antara petani desa dengan perusahaan pengolahan tembakau besar. Saat ini, pemasaran hasil panen masih mengandalkan rantai perdagangan konvensional yang ada.
Oleh karena itu, ia menyimpan harapan besar kepada pemerintah daerah untuk memberikan perhatian lebih, mulai dari:
- Kepastian bantuan dan distribusi pupuk.
- Bantuan alat perajang yang modern.
- Perbaikan jaringan irigasi pertanian.
- Dukungan kestabilan harga jual tembakau di tingkat petani.
Pesan untuk Generasi Muda
Mengakhiri penuturannya, Supeno menekankan pentingnya semangat pantang menyerah serta keterbukaan untuk saling berbagi ilmu antarpetani. Ia berharap generasi muda mau melirik dan meneruskan potensi besar ini.
